Rabu, 09 Desember 2015
Di Kejemuan Malam
Minggu, 04 Desember 2005
Terdengar lantunan lagu di radio
Bercerita tentang nyanyian di Malioboro
Diselingi berjuta kata-kata merdu
Diriku sejenak teringat akan kisahku
Lagu itu….
Lagu itu mewakili kisahku
Dendangkan ceriwis senyumku
Diiringi suara sang vokalis
Jadikan musik lebih berarti
Satu lagu melankolis
Datang menyapa malam
Biar, biarkan menemaniku
Di kejemuan diri melanda kesunyian
Benarkah aku sedang termenung?
Terasa kedua mata mengantuk
Namun hati enggan terlelap
Bahkan pikiran ku pun sulit tertidur
Hingga ku kembali terbangun
Menarikan pena hitam
Di atas selembar kertas bisu
Menulis apa yang tertulis
Menanti hal yang belum terjadi.
Friday Is Back, 09 Desember 2005.
Minggu, 29 November 2015
Di Kamar Hening
Minggu, 27 November 2005 (00.17 AM)
Gesekan daun tertiup angin
Goyah mengayun ranting kering
Semilirkan diri dikesunyian
Keropos mengisi letihku
Larut malam meresap raga
Sadarkanku dari lamunan
Membayangkan raut yang kudamba
Ada di depanku, nyata
Desiran hujan menebar dingin
Bergemericik menabrak genting
Sebabkan patahnya ranting kering
Jatuh pasrah menerima takdir
Kembali diri menatap atap
Menerawang saat ingin terlelap
Menahan ego di ruang gelap
Menerima kosong dalam sekejap
Sesaat kain usang selimuti tubuh
Menutup diri menyambut kantuk
Sambil hilangkan lelah di hati
Bersihkan emosi dalam mimpi
Dikerinduan ku mendekap sepi
Sungguh ku mengharap temu
Berbicara di hati sendiri
Menenangkan resah jiwaku.
Selasa, 29 November 2005 (02.16 WIB).
Goyah mengayun ranting kering
Semilirkan diri dikesunyian
Keropos mengisi letihku
Larut malam meresap raga
Sadarkanku dari lamunan
Membayangkan raut yang kudamba
Ada di depanku, nyata
Desiran hujan menebar dingin
Bergemericik menabrak genting
Sebabkan patahnya ranting kering
Jatuh pasrah menerima takdir
Kembali diri menatap atap
Menerawang saat ingin terlelap
Menahan ego di ruang gelap
Menerima kosong dalam sekejap
Sesaat kain usang selimuti tubuh
Menutup diri menyambut kantuk
Sambil hilangkan lelah di hati
Bersihkan emosi dalam mimpi
Dikerinduan ku mendekap sepi
Sungguh ku mengharap temu
Berbicara di hati sendiri
Menenangkan resah jiwaku.
Selasa, 29 November 2005 (02.16 WIB).
Jumat, 30 Oktober 2015
Kebesaran Mu
Wahai Sang Pemilik Hidup
Subhanallah,
Makna yang terucap ketakjuban
Dapatkan kata-kata lagi,
Tentang naga bulan yang mencaplok purnama
Yang kaitkan sepasang kelingking mengapid
Memeluk bagai mengikat janji manis
Subhanallah,
Takjub perasaan yang kau beri
Juga tiupkan resah di diriku ini
Wahai Sang Pemilik Hidup
Percayakan ia atas takdir dari-Mu
Lafadz pemuka agama berbicara
Uraikan teori-teori hidup
Jenggot hitam berbaris menggelayut
Isyaratkan ilmu terus turut di hatinya
Tetapkan keyakinan mengiringinya
Kokohkan pondasi akan ilmu agama
Aku yang terasa miskin akan ilmu itu
Juga awam akan awan cerah menerangi
Sesekali ku hanya meyakini diri sendiri
Akan adanya ilmu itu di diriku ini
Kebesaran-Mu,
Cahaya yang akhirnya menerangi hamba-hamba-Mu ini.
----------------------------
Senin, 30 Oktober 2006 ...
... Senin, 31 Desember 2007 (02.30 WIB)
Subhanallah,
Makna yang terucap ketakjuban
Dapatkan kata-kata lagi,
Tentang naga bulan yang mencaplok purnama
Yang kaitkan sepasang kelingking mengapid
Memeluk bagai mengikat janji manis
Subhanallah,
Takjub perasaan yang kau beri
Juga tiupkan resah di diriku ini
Wahai Sang Pemilik Hidup
Percayakan ia atas takdir dari-Mu
Lafadz pemuka agama berbicara
Uraikan teori-teori hidup
Jenggot hitam berbaris menggelayut
Isyaratkan ilmu terus turut di hatinya
Tetapkan keyakinan mengiringinya
Kokohkan pondasi akan ilmu agama
Aku yang terasa miskin akan ilmu itu
Juga awam akan awan cerah menerangi
Sesekali ku hanya meyakini diri sendiri
Akan adanya ilmu itu di diriku ini
Kebesaran-Mu,
Cahaya yang akhirnya menerangi hamba-hamba-Mu ini.
----------------------------
Senin, 30 Oktober 2006 ...
... Senin, 31 Desember 2007 (02.30 WIB)
Selasa, 27 Oktober 2015
Chaos
Kamis Dini Hari, 27 Oktober 2005
Kekacauan,
Egoisme,
Kedua sisinya meliat….
Bukan melihat
Putih,
Abu-abu,
Hitam….
Apa yang terjadi?
Coklat,
Hijau,
Merah….
Semua bertahan,
Semua melawan,
Seperti suku bar-bar.
Kekacauan,
Egoisme,
Kedua sisinya meliat….
Bukan melihat
Putih,
Abu-abu,
Hitam….
Apa yang terjadi?
Coklat,
Hijau,
Merah….
Semua bertahan,
Semua melawan,
Seperti suku bar-bar.
Jumat, 23 Oktober 2015
Cinta Sang Polinator
Serangga-serangga pollinator yang liar
Terbang rendah mencari kesejukan hati
Hinggap ke atas dahan rentan
Di antara teduhnya rerimbunan hijau
Menikmati suasana yang tak menentu
Di musim penuh dengan perjuangan
Yang dikelilingi oleh berjuta-juta karakter
Dan tenggelamkan serangga dalam kenaifan
Seperti debu halus yang melekat
Tergenang harapan di permukaan basah
Akhirnya memudar oleh embun pagi
Di atas daun yang mulai bersemi
Andai cinta tetap cerah berawan
Tentu ku akan bersuka cita
Terbang layaknya bunga-bunga berseri
Di taman penuh warna keceriaan
Angin dingin membawa kegelisahan
Bagi lemahnya serangga muda
Dari bahaya yang mampu berevolusi
Berhembus membaur bersama kabut
Sang pollinator mendekap penasaran
Menggores perhatian oleh nafsunya
Yang katanya sebagai kesenangan belaka
Demi untuk menghirup nafas kebebasan.
Revisi Minggu, 23 Oktober 2005 … (Imsak).
Langganan:
Postingan (Atom)