Welcome To Join Us

Selamat datang di blog kami, Pelangi Indonesia.
Blog kami bukan hanya memberikan informasi tentang keindahan panorama alam saja, namun juga dilengkapi serba-serbi informasi layaknya warna pelangi.
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Desember 2015

Jalan Terjal Bukit Tursina

                                                                                          Rabu Malam, 26 Desember 2007


Sadar diri akan sekeping rasa
Keberadaanmupun belum ku mengerti
Gunung Tursina saksi terdahulu
Di zaman-zaman para Nabi

Ingatlah tongkat Musa jadi mukjizat
Jelas hanya Rasul yang merasakannya
Bersyukurlah engkau sebelum terlambat
Kembali ke jalan di mana engkau memulai kebaikan

Sikap burukku kepadamu
Terkadang malah bikin lupa diri
Senangkan diri untuk berbagi
Binal mencari kesenangan duniawi

Wahai Gunung Tursina
Saksi besar di zaman seorang Nabi
Tersirat hingga kini menjadi sang penanti
Mengingatkan suatu hati menanti

Wahai Bukit Tursina
Melintas di zaman Nabi-nabi
Perintis Wahyu pertama seorang Nabi
Pastikan secercah kebaikan hakiki

Kini engkau labil masih terjadi
Seperti aku sedang mencari sesuatu
Melintasi bukit-bukit terjal Tursina
Atau mencari kebahagiaan di tepian hati

Jalan terjal di bukit Tursina
Tiada beda ombak di pesisir pantai
Nampak sama bila terbit matahari
Menerangi bukit ataupun tepian muara pesisir
Menerangi hati bagi dunia yang sementara
Untuk kembali ke jalan engkau memulai kebaikan.


                                                                                         Kamis, 27 Desember 2007 (20.10 WIB)

Rabu, 09 Desember 2015

Di Kejemuan Malam


                                                                                                      Minggu, 04 Desember 2005

Terdengar lantunan lagu di radio
Bercerita tentang nyanyian di Malioboro
Diselingi berjuta kata-kata merdu
Diriku sejenak teringat akan kisahku

Lagu itu….
Lagu itu mewakili kisahku
Dendangkan ceriwis senyumku
Diiringi suara sang vokalis
Jadikan musik lebih berarti

Satu lagu melankolis
Datang menyapa malam
Biar, biarkan menemaniku
Di kejemuan diri melanda kesunyian
Benarkah aku sedang termenung?

Terasa kedua mata mengantuk
Namun hati enggan terlelap
Bahkan pikiran ku pun sulit tertidur

Hingga ku kembali terbangun
Menarikan pena hitam
Di atas selembar kertas bisu
Menulis apa yang tertulis
Menanti hal yang belum terjadi.


                                                                                                           Friday Is Back, 09 Desember 2005.

Minggu, 29 November 2015

Di Kamar Hening


                                                                                    Minggu, 27 November 2005 (00.17 AM)

  
Gesekan daun tertiup angin
Goyah mengayun ranting kering
Semilirkan diri dikesunyian
Keropos mengisi letihku

Larut malam meresap raga
Sadarkanku dari lamunan
Membayangkan raut yang kudamba
Ada di depanku, nyata

Desiran hujan menebar dingin
Bergemericik menabrak genting
Sebabkan patahnya ranting kering
Jatuh pasrah menerima takdir

Kembali diri menatap atap
Menerawang saat ingin terlelap
Menahan ego di ruang gelap
Menerima kosong dalam sekejap

Sesaat kain usang selimuti tubuh
Menutup diri menyambut kantuk
Sambil hilangkan lelah di hati
Bersihkan emosi dalam mimpi

Dikerinduan ku mendekap sepi
Sungguh ku mengharap temu
Berbicara di hati sendiri
Menenangkan resah jiwaku.


                                                                                        Selasa, 29 November 2005 (02.16 WIB).

Jumat, 30 Oktober 2015

Kebesaran Mu

Wahai Sang Pemilik Hidup
Subhanallah,
Makna yang terucap ketakjuban
Dapatkan kata-kata lagi,
Tentang naga bulan yang mencaplok purnama
Yang kaitkan sepasang kelingking mengapid
Memeluk bagai mengikat janji manis

Subhanallah,
Takjub perasaan yang kau beri
Juga tiupkan resah di diriku ini

Wahai Sang Pemilik Hidup
Percayakan ia atas takdir dari-Mu
Lafadz pemuka agama berbicara
Uraikan teori-teori hidup

Jenggot hitam berbaris menggelayut
Isyaratkan ilmu terus turut di hatinya
Tetapkan keyakinan mengiringinya
Kokohkan pondasi akan ilmu agama

Aku yang terasa miskin akan ilmu itu
Juga awam akan awan cerah menerangi
Sesekali ku hanya meyakini diri sendiri
Akan adanya ilmu itu di diriku ini
Kebesaran-Mu,
Cahaya yang akhirnya menerangi hamba-hamba-Mu ini.

----------------------------
Senin, 30 Oktober 2006 ...
... Senin, 31 Desember 2007 (02.30 WIB)

Selasa, 27 Oktober 2015

Chaos

                                                                                          Kamis Dini Hari, 27 Oktober 2005

Kekacauan,
Egoisme,
Kedua sisinya meliat….
Bukan melihat

Putih,
Abu-abu,
Hitam….

Apa yang terjadi?
Coklat,
Hijau,
Merah….

Semua bertahan,
Semua melawan,
Seperti suku bar-bar.

Jumat, 23 Oktober 2015

Cinta Sang Polinator



Serangga-serangga pollinator yang liar
Terbang rendah mencari kesejukan hati
Hinggap ke atas dahan rentan
Di antara teduhnya rerimbunan hijau

Menikmati suasana yang tak menentu
Di musim penuh dengan perjuangan
Yang dikelilingi oleh berjuta-juta karakter
Dan tenggelamkan serangga dalam kenaifan

Seperti debu halus yang melekat
Tergenang harapan di permukaan basah
Akhirnya memudar oleh embun pagi
Di atas daun yang mulai bersemi

Andai cinta tetap cerah berawan
Tentu ku akan bersuka cita
Terbang layaknya bunga-bunga berseri
Di taman penuh warna keceriaan

Angin dingin membawa kegelisahan
Bagi lemahnya serangga muda
Dari bahaya yang mampu berevolusi
Berhembus membaur bersama kabut

Sang pollinator mendekap penasaran
Menggores perhatian oleh nafsunya
Yang katanya sebagai kesenangan belaka
Demi untuk menghirup nafas kebebasan.


                                                                                                      Revisi Minggu, 23 Oktober 2005 … (Imsak).

Rabu, 26 Agustus 2015

Maaf

                                                                                          Sabtu Pagi, 26 Agustus 2006


Kata ambigu yang pernah tersirat
Terucap dari kelembutan sang hawa
Jadikan lamunan di kesendirianku
Tersimpan mengurung kesepianku

Menelaah setiap arti kata
Dari dirinya, dari pencarian jiwa
Menelusuri mimpi pagi hari
Coba saling berkata tentang kita

Maaf jika siangku tak bisa bersamamu
Maaf jika malamku tak bisa bersamamu
Maaf atas kekurang dewasaanku
Membuatmu merasakan ambiguku

Tertanam indah dalam hati
Pastikan menyesalku
Tinggalkan sendirimu dalam hidup
Langkahkan diri lalui hari-hari

Maaf atas semua yang terjadi
Akupun terluka karena keegoisanku
Menyiksa diri sendiri dalam hati
Atau ada hal yang tidak kita mengerti.



                                                                                         …09.28 – 09.53 WIB …

Kamis, 13 Agustus 2015

Keraguan Indah

Lebih ingin dari cukup
Meski tak akan seperti bayanganku
Dia sendiri, aku tetap sendiri
Banyak’ku menaruh tanya

Keraguan indah, kuragukan indah
Bukan maksud tuk menjauh
Keraguanku dan keegoisanku
Sembunyikan rasa dengan nyata

Harusku-yakinkanku
Kata demi kata memancing kebenaran
Mencoba cari jalan keluar
Dari tabir simalakama

Ya Tuhan
Beri jalan terbaik
Kami orang-orang yang kadang bermunafik
Orang-orang yang terbalut akan salah

Ya Tuhan-ku
Beri kami jalan terbaik
Agar tak sakiti orang-orang terdekat
Orang-orang yang kami sayangi.


                                                                                                             Minggu, 13 Agustus 2006

* take care your self

Rabu, 15 Juli 2015

Indah

                                                                                                              Sabtu Manis, 15 Juli 2006


Menutup nyata bukan menutup hati
Entah kusebut apa dia?
Entah siapa dia kelak?
Bidadari mungil berwujud manusia,
Ataukah peri kecilku?

Ada tawa lepas saat bersamanya
Indah, benar-benar indah
Kenyataan yang kita tutupi
Mengapa kita menutupi?
Rasa yang mungkin benar-benar ada
Bersama waktu yang terbilang singkat

Atau belum siapkah kita?
Jalani cobaan dari Sang Pencipta
Dari cobaan di usia muda
Teramat muda di waktu muda

Do’a ku ….
Semoga kau temukan jalan terbaik
Semoga malaikat hati tunjukkanmu jalan terbaik
Mengubah pemikiran tentang rasa
Lalui hidup penuh dengan misteri hati.


* Inspirated From Sweet Semi Bad Brownies

Minggu, 12 Juli 2015

De Ja Vu

                                                                                                              Jum’at, 23 Juni 2006


Kembali diri sia-siakan nurani
Perihal terpendamnya mata hati
Terulang kisah yang terhenti
Sembilu di balik bayang-bayang sang dewi

Seperti waktu ini hari
Datang menyapa mimpi pagi
Sebagai penghias tidurku
Pertanyakan sifat diriku
Membahas singkat tentang kita
Mencari tahu siapa kita

Kilas balik balikkan kisah
Segala pudar yang samar
Lambungkan angan-angan yang ku kejar
Terkesan mengacaukan pikiran
Tetap mengakar di jiwaku
Sekeranjang naskah indah tempo dulu
Saru dalam benak dan hatiku

Menghiraukan berat langkah
Tetap ku menapak ke depan
Lewati tajamnya kerikil-kerikil
Demi temukan rusuk sejatiku
Lalui bayang-bayang masa lalu
Yang sepertinya pernah kualami.



                                                                       Rabu, 12 Juli 2006 (02.02 WIB)

Sabtu, 11 Juli 2015

Mati Muda

Belum selesai kau bercerita
Belum jauh kau kepakan sayap-sayap-mu
Namun kau telah terbang tinggi tak kembali
Tinggalkan Bumi tinggalkan kenangan

Jasad yang terkubur Bumi
Tertimbun tanah-tanah kering
Dihiasi bunga-bunga tertanam
Mewangi untuk dirimu
Wangi mengantar matimu
dan aromai ruang tunggumu

Belum lancar kau berbicara
Belum selesai bercerita
Kepakan sayap-sayap putih datang menjemput
Sempat kupeluk dan kuciumi dirimu
Sebagai salam perpisahan

Kugenggam dengan satu tanganku
Mengubur singkat kenangan bersamamu
Kau kuingat akan terus kuingat
Hingga aku pun mungkin mati muda.

-------------------------------------------
Selasa, 11 Juli 2006

•Waallahu Alam wal Bishawab.
•Didedikasikan bagi orang-orang yang kukenal yang mati muda
dan untuk burung puter putihku yang mati muda pagi ini. “I Miss U All Guys.”

Rabu, 01 Juli 2015

Bukan Siapa-siapa

                                                                                                              Sabtu, 01 Juli 2006

Jangan dulu dengan hati
‘pabila manis mendekatimu
Karena kita bukan siapa-siapa
Yang menentukan manis itu manis

Lupakan cepat yang tak tentu
Agar derita hati tak berlanjut
Karena dekat akan menjauh
M’lupakan kita yang dekat

Rasakan manis yang samar
Tetapi juga rasa tak salah
Karena tak ingin tersaingi
Merenda hati ke hati yang lain

Kini terserah kemana akan melangkah
Aku tak terlalu ambil perduli
Karena kita bukan siapa-siapa
Yang menentukan manis itu manis.

----------------
14.10 -14.50 wib..

Selasa, 23 Juni 2015

5,9 SR


5,9 SR

Sabtu pagi awal kegaduhan
Isukan kabar duka datang lagi
Lalu wajah-wajah sekitar Jogja berteriak
Histeriskan keadaan akan trauma

Kosong lima lima puluh
Tanah Jawa retak-retak
Sekian banyak runtuhnya kesedihan
Mengguncang pantai pesisir selatan
Hadirkan bencana dengan susulan
Menindih ribuan korban saudara-saudaraku
Yang belum sempat dekat kukenal
Merintih menahan sakit yang teramat

Dua puluh tujuh Mei Dua ribu enam
Televisi beritakan duka datang lagi
Tersendat derita akan bantuan
Menguras iba bagi tanah pertiwi

Tangis Aceh yang belum terhenti
Sisakan luka yang belum mengering
Rasakan sakit menyusul kota Gudeg
Darah-darah yang belum terbilas

Diselingi panasnya Merapi
Diselingi panasnya lumpur Sidoarjo
Menguji mereka orang-orang teruji
Menjalani cobaan dari Sang Khalik.

--------------------------
Jum’at, 23 Juni 2006
#   Didedikasikan bagi para korban gempa di Yogyakarta, Jawa Tengah dan sekitarnya.

Jumat, 29 Mei 2015

Yang Hilang

                                                                                                              Senin, 29 Mei 2006 


Cahaya keindahan dari seberang jalan
Mendekat ringankan semilir kerinduan
Menyusuri jejak-jejak tepi trotoar
Sendu sejuk wajah tertanam

Tertunduk dalam hati melangkah
Sembunyikan senyum menilik empati
Kepada jasad-jasad terperangah
Tertebar pesona tanpa sengaja

Palingkan wajah-ku-torehkan kenangan
Rahasiakan dalam semilir angin
Dan simpan anggunnya dia berjalan
Menjauh dari sepi kesendirian

Ruh yang menggoda nafsu dunia
Teriakkan suara mengiringi ramai
Mengajak untuk penuhi neraka
Mereka panaskan hasrat terbuang
Sekedar lepaskan penasaran

Sang waktu,
Bantu aku lupakan sesuatu
Sang waktu,
Bantu aku temukan sesuatu
Bantu aku temukan sesuatu yang hilang.

Sabtu, 18 April 2015

Munajat Cinta

Lama tak bersyair
Lama juga ku tak berpuisi
Sementara lirik-lirik yang tercipta masih tetap sama seperti dahulu
Tentang cinta, tentang kehidupan
Tentang manusia muda yang bergelut dengan cobaan
Aku bertahan sekuat aku sanggup untuk menahan

Bila tiba waktuku
Entah suka, duka, bahagia, maupun berakhir di kematian dunia
Itu jalan yang sudah digariskan untuk menuju akhirat
Bukan menyerah karena lelah
Bukan hanya lelah karena sendiri
Melainkan letih dari sepinya sang nafsi

Ya Tuhanku,
Bukan hal haram bagiku
Jika seorang hamba merendahkan dirinya sendiri di hadapan penciptanya
Karena Engkau Maha Mengetahui yang berada di luar dan di dalam hatiku.

-----------------------------------------
Rabu, 18 April 2012..
# 15.14 wib..

Kamis, 16 April 2015

Bila Memang Ada Rasa

                                                                                          Senin, 13 November 2006


Lalumu itu laluku ini
Jaga diri baik-baik
Bila ada rasa kelak kembali
Mengusir kekhawatiranku

Lihat sepasang Merpati terbang
Seakan lambaikan tangan
Sesaat kita merenggang
Kelak kalau kita memang saling ada rasa
Sepasang sayap pasti akan terbang bersama

Harusnya tak saling menyakiti
Harusnya tak saling menipu hati
Harusnya saling mengenal dan mengerti
Menjadi sayap bagi sayap lainnya menemani

Bila memang ada rasa
Coba kau bertanya pada hatimu
Berdoa kepada Tuhanmu
Hati di atas duniawi

Kepada langit berkerudung senja kutitipkan
Harapan indah untuk belajar selami hidup
Menyendiri dia yang pisahkan diri
Bagai peri kecil bersayap semu
Merenungi hidupnya dalam redup-redup cahaya.


                                                                                             Senin, 16 April 2007.

Senin, 30 Maret 2015

Renungan Sang Nafsi

Di hampir setengah usia sang nabi
Malam hari masih terasa sepi
Bahkan sang nafsi seolah tak peduli
Ketika emosi merenungi diri

Ya Tuhanku,
Usiaku makin dekat dengan-Mu
Dan masih kuikuti jalan takdir dari-Mu
Hingga detik akhir tutup usiaku

Ya Tuhanku,
Malaikat-Mu yang terselip bersama cahaya
Membawa berita turun ke bumi
Mendatangi setiap ajal yang telah terpanggil
Berserah diri hanya kepada-Mu ya Sang Khalik

Insan-insan yang merenungi diri
Jadikan shalat sebagai pengingat matimu
Begitu bunyi syair sang nabi
Menembus jantung dalam tubuhku ini
Walau begitu,
Aku masih sukar hadapi godaan dunia
Aku bertahan sekuat aku bisa menahan

Ya Tuhanku…
Kemana perginya tarian sayap sang dewi,
yang sempat temani masa kecilku?
Bila kelak tak lagi bertemu
Mohon jaga setiap langkah dirinya
Bersama kawalan malaikat-Mu yang terselip dalam cahaya.

------------------------------
Selasa, 30 Maret 2010
… 23.20 WIB…

Sabtu, 28 Maret 2015

Tangis Bidadari Dan Malaikat Hati

                                                                                          Selasa, 27 Maret 2007


Mendengar tangis bidadari
Sendiri malaikat hati berdiri
Berdetak rasakan lubuk hati
Mencari bidadari dalam duniawi

Tangis bidadari, air mata bidadari
Memeluk mimpi peluk diri ini
Malaikat hati tenangkan sedih
Memeluk diri peluk bidadari

Sayap-sayap putih membawanya pergi
Sedihnya diri kembali ketika sepi
Tangis bidadari dan malaikat hati
Tebarkan wangi saling tercumbui

Malaikat hati mendengar tangis bidadari
Miriskan makna sendu dalamnya nurani
Pandangi dia untuk kesekian kali
Terlintas indah di balik kasih suci

Tinggi sang mentari tunggui pagi hari
Menjemput dirinya jumpai siang hari
Antarkan tidur iringi malam hari
Senandungkan rapuh tegar sedih bidadari
Malaikat hati masih sendiri diam berdiri.


                                                                                          Rabu, 28 Maret 2007.

Senin, 09 Maret 2015

Serangga Malam

Serangga-serangga malam,
Apa kau tidak bosan menghias malam?
Sementara aku sepi akan malam
Apa kau hadir untuk orang-orang semacam aku
Orang-orang yang terapung kegalauan hati
Diam berada di ruas dua sisi

Serangga-serangga malam,
Hibur aku sebelum larut oleh kegundahan hati
Aku takut ia menggerogoti benak hitamku
Hingga aku memikirkan hal yang tidak-tidak
Perihal yang belum terjadi

Serangga-serangga malam,
Cahaya di ekormu kerlipkan malam
Seolah lupakan kesedihan
Turuti pikiran mengembara kekehampaan

Serangga-serangga malam,
Biar kesepian ini bersama kalian
Bersama serangga-serangga malam
Teman-temanku di kesunyian diri.

--------------------
Minggu, 09 Maret 2008
Inspirated by kunang-kunang
(serangga-serangga malam)

Rabu, 04 Februari 2015

Selembar Kertas

                                                                                            Senin Dini Hari, Kamar Sepi 04 Februari 2008


Untuk temanku di sudut sendu
Dunia tidak hanya hitam dan putih
Namun nyata adanya abu-abu
Zona para manusia muda jalani cobaan diri

Benarku masih ingin singgah
Agar tetap bersilaturrahim
Bukan hanya untuk satu karib
Tapi untuk banyak sahabat

Terima kasihku,
Teguran dari secarik kertas
Ingatkanku akan intermezzo diri
Aku dan kalian semua

Tak ada aral yang belum selesai
Dariku dan seorang sahabat
Yang kini telah kembali menerima tawa
Dari dia dan aku yang bertukar sapa lewat telephone

Aku dan seorang sahabat
Semua baik-baik saja
Yakinlah akan hal itu hai wanita
Tempat belajar menjadi dewasa
Aku dan kalian semua.